Selasa, 30 Maret 2010

judging

Judging adalah penilaian tingkatan ternak dengan beberapa karakteristik penting untuk tujuan tertentu secara subjektif. Judging terdiri atas tiga langkah yaitu, penilaian melalui kecermatan pandangan (visual), penilaian melalui kecermatan perabaan (palpasi), dan penilaian melalui pengukuran tubuh.

Memilih ternak berdasarkan visual berarti kita memilih ternak berdasarkan sifat-sifat yang tampak. Dalam cara ini memilih bibit hampir sama saja dengan seleksi untuk tujuan produksi. Seleksi berdasarkan visual ini biasa disebut dengan Judging. Judging pada ternak dalam arti yang luas adalah usaha yang dilakukan untuk menilai tingkatan ternak yang memiliki karakteristik penting untuk tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit adalah referensi untuk pemberian penghargaan tertentu dalam suatu kontes. Kadang-kadang judging dilakukan untuk melakukan penggolongan ternak berdasarkan kelasnya masing-masing. Ternak untuk bibit sebaiknya dipilih pada waktu masih muda, paling tidak seumur pasca sapih, sehingga masih ada waktu untuk pemeliharaan yang ditujukan sebagai bibit. Seleksi bibit jantan biasanya lebih diutamakan karena jantan mempunyai keturunan lebih banyak daripada ternak betina. Selain sifat-sifat produksi, faktor kesehatan harus diperhatikan, faktor ini erat kaitannya dengan kemampuan reproduksi. Secara umum ternak calon bibit tidak cacat, kaki lurus dan tegak, lincah, dan tidak pernah terserang penyakit yang berbahaya. Pertumbuhan kelamin harus normal, kondisi tubuh tidak terlalu gemuk atau kurus. Memilih ternak unggul untuk tujuan produksi berbeda dengan untuk tujuan bibit.

Ternak yang sehat dapat dipilih dengan melakukan penilaian melalui pandangan dari samping, belakang, dan depan atas ternak tersebut. Untuk mengetahui bahwa ternak dalam kondisi sehat, maka perlu diketahui karakteristik ternak yang sehat. Karakteristik tersebut meliputi, keadaan mata dan kulitnya normal, pergerakannya tidak kaku, tingkah laku dan nafsu makan normal, pengeluaran kotoran dan urine tidak sulit, tidak ada gangguan dalam berjalan dan berdiri, serta memiliki respirasi dan sirkulasi darah yang normal.

Ternak (sapi) yang sehat memiliki kulit yang lentur dan mudah dilipat. Jika kulit ternak ditarik dan dijepit kemudian lipatan tidak menghilang, maka ternak tersebut kehilangan cairan. Keadaan ini terjadi pada ternak yang terserang diare. Mata, mulut, dan hidung ternak yang terdapat lendir berlebihan menunjukkan ternak tersebut dalam keadaan sakit. Cara ternak berjalan dan berdiri dapat menjadi abnormal ketika ada bagian tubuh yang sakit. Jika kuku ternak terinfeksi, maka ternak tersebut akan terlihat pincang.

Kotoran dan urine harus keluar secara teratur, tidak berdarah, dan memiliki kepadatan normal. Jika kotoran keluar dalam keadaan cair dan menempel di sekitar ekor, maka ternak tersebut terkena diare. Rambut yang tumbuh di sekitar kulit harus tumbuh normal, halus, dan bercahaya. Ternak yang terkena anemia akan memiliki rambut yang kasar, kering, dan terjadi kerontokan. Kasus seperti ini akan terlihat pula pada ternak yang terinfeksi dan mengalami defisiensi nutrisi.

Selanjutnya, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan tulang-tulang rusuk (ribs) untuk memilih ternak yang gemuk. Ternak kurus tidak selalu dalam keadaan sakit, namun ternak yang gemuk menandakan produksi daging yang optimal. Tulang rusuk sapi berjumlah 13 buah. Semakin sedikit tulang rusuk yang membayang di balik kulit, maka ternak tersebut semakin gemuk. Hal ini terjadi karena tulang rusuk tertutup oleh perdagingan dan lemak.

Setelah melakukan penilaian secara visual, ternak yang akan dijadikan hewan kurban dapat dinilai dengan melakukan perabaan dan pemeriksaan dengan tangan. Ternak yang sehat memiliki sirkulasi darah yang normal. Tekanan ventrikel jantung menyebabkan darah melalui arteri. Tekanan jantung dapat dirasakan dengan meletakkan tangan pada daerah jantung. Detak jantung dapat diperiksa dengan mengukur tingkat pulsa ternak dalam satu menit. Pulsa ternak dapat dirasakan dengan menekan secara lunak jari telunjuk dan jari tengah pada arteri yang berada dekat dengan permukaan kulit. Sapi memiliki pulsa sebanyak 60 hingga 70 dan domba sebanyak 60 hingga 70. Tingkat pulsa akan meningkat jika ternak dalam keadaan demam.

Ternak yang sehat akan melakukan respirasi secara ritmik dan tenang. Tingkat respirasi dapat diketahui dengan mendekatkan telapak tangan di depan hidung ternak dengan menghitung jumlah penarikan nafas dalam satu menit. Tingkat respirasi sapi sebanyak 10 hingga 30 dan domba 10 hingga 20. Ternak yang sakit dan berada dalam temperatur tinggi akan memiliki tingkat respirasi yang tinggi.

Kegemukan ternak (sapi) dapat diketahui dengan meraba perkembangan otot di antara tulang processus spinosus (tulang belakang) dengan processus transversus (tulang rusuk rudimenter). Pada ternak yang gemuk, processus transversus tidak dapat teraba oleh tangan dan terasa sekali perlemakan yang tebal di balik kulit. Pada domba yang tertutup rambut tebal, perabaan dilakukan dengan tangan terbuka pada punggung dari arah belakang dekat pangkal ekor sampai ke leher dengan jarak perabaan tidak lebih dari 5 cm. Mengukur berbagai ukuran-ukuran tubuh seperti, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada, dan dalam dada. Ukuran yang penting dalam mengetahui kegemukan dan berat tubuh ternak tersebut adalah lingkar dada dan panjang badan. Lingkar dada diukur melingkar di belakang sendi bahu (os. scapula).
Umur ternak dapat diketahui dengan melihat keadaan gigi seri (incicors). Jika ternak memiliki satu pasang gigi seri permanen, maka ternak tersebut berumur 1-1,5 tahun untuk domba dan 1,5-2 tahun untuk sapi.

2 komentar: